You need to enable javaScript to run this app.

Berhenti Di Nangalili

Berhenti Di Nangalili

Cici duduk di jok belakang motor itu dengan kedua tangan memeluk tasnya erat; bukan karena dingin, tapi karena ada sesuatu yang bergetar pelan di dadanya. Pagi di Ruteng masih berkabut, dan jalan menuju Lembor Selatan terbentang seperti cerita yang belum selesai ditulis.

Di depan, Agus mengemudi dengan tenang. Sesekali ia menoleh sedikit, memastikan Cici baik-baik saja.

“Dingin?” tanya Agus tanpa benar-benar menoleh.

“Sedikit,” jawab Cici singkat.

Namun sebenarnya bukan dingin yang ia rasakan.

Perjalanan itu bukan sekadar perjalanan asistensi Paskah. Itu seperti jeda panjang yang mereka berdua butuhkan di tengah tugas kuliah, dan pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan yang selalu menggantung.

Motor melaju melewati tikungan demi tikungan. Kabut mulai menipis, digantikan hamparan sawah yang hijau dan udara yang lebih hangat.

“Ci,” kata Agus tiba-tiba.

“Iya?”

“Kalau nanti kita sudah selesai kuliah… kamu mau ke mana?”

Cici terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi berat.

“Mungkin… kembali ke kampung. Atau kerja dulu di kota. Belum tahu,” jawabnya pelan. “Kalau kamu?”

Agus tidak langsung menjawab.

“Aku… pengen tetap dekat kamu.”

Jawaban itu membuat Cici tersenyum, tapi juga merasa sesuatu yang aneh—seperti kebahagiaan yang rapuh.

“Dekat itu maksudnya gimana?” tanya Cici, setengah bercanda.

“Ya… ya dekat. Nanti kita cari jalan sama-sama ”

Cici membalas :

"Jangan dulu. kita lihat nanti, fokus kuliah saja dulu"

Motor terus melaju. Percakapan mereka mengalir; tentang dosen yang galak tapi sebenarnya peduli, tentang tugas yang tak pernah habis, tentang mimpi membuka usaha kecil, bahkan tentang nama anak yang mereka tertawakan sendiri.

Waktu terasa berjalan terlalu cepat.

Saat mereka tiba di Nangalili, langit sudah terang. Jalanan mulai ramai. Agus memperlambat laju motornya.

Dan tiba-tiba, Motor itu tersendat.

“Kenapa?” tanya Cici, panik kecil.

Agus mencoba menyalakan lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Mesin itu mati.

Sunyi.

Hanya suara angin dan kendaraan yang sesekali lewat.

Agus turun, memeriksa motor dengan wajah yang berubah serius.

“Sepertinya… ada masalah,” katanya pelan.

Cici ikut turun. Ia berdiri di pinggir jalan, memandang Agus yang berusaha memperbaiki sesuatu yang mungkin lebih dari sekadar mesin motor.

“Bisa diperbaiki?” tanya Cici.

Agus menggeleng pelan.

“Tidak sekarang.”

Mereka saling diam.

Tak lama, tangan Agus melambai ke mahasiswa lain yang berada persis di depan mereka.

“Ci… kamu ikut mereka saja,” kata Agus akhirnya.

“Lalu kamu?”

“Aku balik ke Ruteng. Perbaiki motor.”

Jawaban itu terasa terlalu cepat. Terlalu pasti.

“Agus…” suara Cici melemah. “Kita baru sampai sini.”

“Iya. Tapi kamu harus sampai ke sana.”

Ada sesuatu di mata Agus yang sulit dibaca antara ragu, antara ingin berkata sesuatu, tapi tertahan.

Mahasiswa lain mulai memanggil Cici.

“Ayo, Ci! Boto usang, Leti ga..!”

Cici menatap Agus. Lama.

“Agus… nanti kamu ke sana?” tanyanya.

Agus tidak langsung menjawab.

“Iya,” katanya akhirnya. “Nanti.”

Cici naik ke kendaraan umum itu. Duduk di antara teman-temannya, tapi pikirannya tertinggal di pinggir jalan, di samping motor yang tak lagi bergerak.

Saat kendaraan mulai berjalan, ia menoleh ke belakang.

Agus menarik tali gas motornya dan melaju kencang.

Tidak melambaikan tangan.

Tidak tersenyum.

Tidak menoleh kembali.

Seperti seseorang yang baru saja melepaskan sesuatu.

Perjalanan Cici berlanjut, tapi percakapan mereka pagi itu terus terngiang.

Tentang masa depan. Tentang “kita”. Tentang “nanti”.

Namun “nanti” terasa tiba-tiba jauh.

Di atas motornya, Agus menghela napas panjang, lalu menatap arah kendaraan yang berlahan menjauh membawa Cici pergi 

Ada sesuatu yang tidak ia katakan.

Dan mungkin… tidak akan pernah sempat ia katakan.

Sejak hari itu, cerita mereka menjadi berbeda.

Bukan karena motor yang seolah rusak.

Tapi karena sesuatu yang berhenti… tepat di Nangalili

 

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Kirenius C.C Watang, S.T.,M.M

- Ketua -

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Karya hadir dalam rangka memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan dan kehidupan yang layak....

Berlangganan
Banner